RPP BAHASA INDONESIA KURIKULUM 2013 KELAS XI BAB 1 KD 3.1. 4.1. TAHUN PELAJARAN 2015/ 2016


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)


Satuan Pendidikan       : SMK ... .

Mata Pelajaran             : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester             : XI/1

Materi Pokok               : Teks Cerpen

Tema/ topik                  : Menemukan Solusi atas Masalah Kewirausahaan

Jumlah Pertemuan       : 1 X pertemuan                      

Alokasi Waktu             : 4 X 45 menit 

A.       Kompetensi Inti

KI 1
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KI 2
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
KI 3
Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya  tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI 4
Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

B.       Kompetensi Dasar dan Indikator

1.1  Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia dan menggunakannya sesuai dengan kaidah dan konteks untuk mempersatukan bangsa
Indikator
1.1.1.      Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia
2.1 Menunjukkan perilaku tanggung jawab, responsif dan imajinatif dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk mengekspresikan impian, misteri, imajinasi, serta permasalahan remaja dan sosial
      Indikator
      2.1.1. Menunjukkan perilaku tanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran

3.1. Memahami struktur dan kaidah teks cerita pendek, pantun,cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviu film/drama baik melalui lisan maupun tulisan

       Indikator

3.1.1.              Mengungkapkan kembali struktur teks cerpen

3.1.2.              Mengungkapkan kembali kaidah teks cerpen

 4.1. Menginterpretasi makna  teks cerita pendek, pantun,cerita ulang, eksplanasi kompleks, dan ulasan/reviufilm/drama baik secara lisan mupun  tulisan

4.1.1.                 Menginterpretasi makna teks cerpen

C.       Tujuan Pembelajaran

Dengan kegiatan diskusi dan pembelajaran kelompok dalam pembelajaran menemukan solusi atas masalah kewirausahaan dengan materi pokok teks cerpen ini siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan santun dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi saran dan kritik, serta dapat:

1.                            Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia

2.                            Menunjukkan perilaku tanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran

3.                            Mengungkapkan kembali struktur teks cerpen

4.                            Mengungkapkan kembali kaidah  teks cerpen

5.                            Menginterpretasi makna teks cerpen

 

D.       Materi Pembelajaran    

1.       Contoh teks cerpen

    1. tulis

PERCINTAAN KEPOMPONG

Cerita Pendek Ahmadun Y Herfanda

Setiap melihat kepompong di daun palem di teras rumahku aku selalu ingat 
kata-kata kekasihku: kita, kau dan aku, adalah kepompong, yang menunggu waktu untuk lepas dari bungkusnya dan terbang menjadi kupu-kupu, belalang, atau mungkin burung jiwa. 
"Aku lebih suka kupu-kupu. Dengan sayap-sayap bercahaya kita akan terbang ke langit," ujar kekasihku, penuh imajinasi.. 
Tetapi, aku merasa terlalu lama jiwaku tidur di dalam kepompong itu, entah berapa abad. Namun, kekasihku yakin, makin lama kita bersemayam di dalamnya, akan makin matanglah jiwa kita, dan makin perkasa pula raga kita. "Kalau kau jadi kupu-kupu, kau akan jadi kupu-kupu yang kuat. Kalau kau jadi belalang, akan jadi belalang yang perkasa," katanya. 
Tapi, bagaimana kalau kita tidak menjadi apa-apa, atau bahkan mati di dalam kepompong itu, karena tidak punya kekuatan lagi untuk melepaskan diri dari kungkungan derita. "Ah tidak. Kita sedang berproses," katanya. "Kita harus jalani proses itu untuk menjadi." 
Untuk menjadi? Menjadi apa? Aku tidak tahu jawabannya, sebab aku tidak punya cita-cita. Aku ingin hidup mengalir saja bagai air, berembus bagai angin, menyebar bagai pasir, meresap bagai garam, menyusup bagai rumput-rumput jiwa. 
Tetapi, seperti kata kekasihku, aku jalani juga hidupku sebagai proses proses untuk menjadi. Aku jalani hari-hari manis, juga hari-hari pahit, bersama orang-orang yang bersentuhan denganku, bersama jiwa-jiwa yang bersedia berbagi. Kuliah, pacaran, bekerja, membangun karier, bertahun-tahun, berabad-abad, sampai serasa lumutan. 
Tapi, aku sungguh tidak tahan menghadapi tahapan membujang terlalu lama takut menjadi bujang lapuk. Maka, aku pun menikah begitu menemukan gadis yang aku sukai dan bersedia berbagi meskipun lebih banyak berbagi duka sebelum kuntuntaskan cintaku padanya. Sementara, kekasihku begitu tahan menjalani tahapan itu, membujang begitu lama, setidaknya sampai kami bertemu lagi di Jakarta. 
"Aku ingin kukuh dalam cinta, cinta pertama," katanya. Aku terkejut sekaligus terpana. "Bukankah kita masih dalam kepompong cinta yang sama? Sayap-sayap kita sedang tumbuh untuk bisa terbang sebagai kupu-kupu, bersama," tambahnya. Imajinatif sekali. Melebihi imajinasi seorang pujangga. 
"Tapi aku sudah menikah dan punya anak. Aku bukan lagi yang dulu," kataku. "Masuklah kembali engkau ke dalam kepompongku untuk bercinta seperti dulu," katanya. 
"Tapi, bagaimana dengan kepompongku?" 
"Buang saja. Tidak ada gunanya. Ia telah pecah oleh perkawinanmu yang tanpa cinta itu." 
"Apa? Tanpa cinta? Ah... kau keliru. Aku mencintai istriku." 
"Bagaimana engkau bisa berkata begitu jika cintamu tertinggal di sini, di dalam kepompongku. Tiap saat aku dapat merasakan denyutnya." 
Aku ingin membantah kata-katanya, bahwa aku benar-benar mencintai istriku, meskipun pada saat yang sama juga mencintai kekasihku. Bukankah lelaki biasa membagi cinta, sebab kodrat lelaki memang poligamis? Karena itu, meskipun aku telah memberikan cinta pada istriku, masih bisa juga aku mencintainya. "Aku masih mencintaimu. Aku masih berhasrat menyatukan jiwa dalam kepompong cintamu," kataku akhirnya. 
Sejujurnya, aku memang tidak dapat membohongi hati kecilku bahwa aku menikah bukan semata-mata karena cinta. Tapi, lebih karena tanggung jawab dan kewajiban. Aku memang mencintai istriku, tapi hanya dengan setengah hatiku. Sebab, seperti kata kekasihku, separuh cintaku masih tertinggal dan berdenyut di dalam kepompongnya.

Dan, begitulah. Hari-hari kulalui dalam percintaan ganda. Di rumah aku 
bercinta dengan istriku, berkasih sayang dengan anak-anakku, dan membangun kehidupan sakinah dengan mereka. Pada hari-hari tertentu aku mengimami shalat mereka, dan menemani mereka membaca Alquran dalam kasih sayang Yang Maha Kuasa. Tetapi, di luar rumah aku selalu rindu untuk memasuki kepompong cinta kekasihku, memenuhi yang belum terpenuhi, mencintai yang belum tercintai. 
Kadang-kadang, bosan bermain kata-kata dalam imajinasi-imajinasi indah itu ini yang selalu aku lakukan sambil menatap wajahnya yang ayu dan senyumnya yang bagai irisan salju kami menciptakan kepompong dari selimut tebal di suatu tempat yang sejuk dan sepi. 
"Saatnya kita masuk ke dalam kepompong yang sebenarnya," katanya tiap kali kami merentangkan selimut tebal seperti biasa. 
Dan, kami pun berada di dalam selimut yang menutup sejak ujung kaki sampai ujung rambut kami. Seperti dulu, ketika kami masih sama-sama di Yogya, aku kembali merasakan hangat tubuhnya, degup jantungnya, lembut nafasnya, dan harum rambutnya. 
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyanya. 
"Kita tidur seperti bayi kupu-kupu sampai sayap-sayap kita tumbuh dengan perkasa untuk terbang ke langit bersama," kataku. 
"Apakah kau masih tidak ingin menikmati keperawananku." 
"Siapa tidak ingin menikmati keperawanan gadis secantik kau? Tapi, tidak. Aku tidak ingin merampas hak suamimu. Siapapun dia, kelak. Aku lebih suka menjaga kemurnian cinta kita, tanpa seks!" 
"Kau memang lelaki yang luar biasa." 
"Luar biasa bodohnya, maksudmu?" 
"Ha ha ha…!" 
Kekasihku tertawa di dalam selimut, cukup keras, hingga kepompong cinta kami serasa bergetar mau pecah. Tentu, menertawai kebodohanku. Tetapi, anehnya, sepuluh tahun lebih, dia tetap sabar mempertahankan cintanya pada lelaki bodoh seperti aku. Bukankah itu berarti dia, kekasihku, juga bodoh sepertiku? Ya, mau-maunya dia terus mencintai lelaki yang tidak mungkin lagi mengawininya, karena sudah beristri dan beranak. Apakah cinta memang misteri yang sulit dipahami, yang sulit ditolak kehadirannya dan sulit diusir pergi? Atau, kami memang orang-orang aneh yang ingin terus bercinta sebatas keindahan imajinasi? 
Sebagai wanita karier yang cukup jelita bukannya tidak pernah ada lelaki lain yang menginginkan kekasihku. Banyak. Banyak sekali. Beberapa kali aku pun perah memergoki dia berjalan dengan seorang lelaki di suatu mal atau lobi bioskop. Tetapi, lagi-lagi, tiap kali kupergoki begitu, tidak lama kemudian dia langsung meneleponku bahwa lelaki itu hanya kawan biasa. 
Suatu hari pernah pula aku melihat kekasihku dikejar-kejar oleh seorang manajer tempatnya bekerja. Aku dengar lelaki itu sangat tertarik padanya. Kekasihku didekati dengan sedannya yang mulus, dibukakan pintu dan dipersilakan masuk. Tetapi, dengan halus kekasihku menolaknya. Dan, ketika kutanya mengapa, kekasihku hanya menjawab, "Aku masih suka tidur sebagai bayi kupu-kupu di dalam kepompong cinta kita." 
Kadang-kadang aku merasa khawatir juga, jangan-jangan kekasihku benar-benar menunggu lamaranku untuk kunikahi. Sebab, suatu hari ia pernah mengatakan, "aku sering merasa diciptakan hanya untukmu." Dan, bukannya aku tidak berani melamar dan menikahinya, atau bermaksud sengaja mempermainkannya. Sama sekali tidak! Tetapi, lebih karena aku sudah memiliki anak dan istri, dan sejujurnya belum punya nyali untuk berpoligami. Kadang-kadang, aku ingin nekat saja menikahinya sebagai istri kedua. Tetapi, tiap aku menatap wajah istri dan anak-anakku yang polos-polos yang tidak berdosa, yang saat tidur seperti menyerahkan seluruh nasibnya padaku, aku menjadi tidak sampai hati melakukannya. Aku tidak tega membayangkan keluargaku, yang aku bina sepuluh tahun lebih, tiba-tiba tercerai berai karena pernikahan keduaku. 
Tetapi, bagaimana kalau kekasihku memang benar-benar menungguku, dan terus menungguku bertahun-tahun lagi, berpuluh-puluh tahun lagi, berabad-abad lagi, sampai hilang seluruh kecantikannya secara sia-sia? Bukankah itu artinya aku menyia-nyiakannya? Bukankah itu artinya aku juga berdosa?

http://ceritaindonesia.angelfire.com/cerita-pendek-percintaan-kepompong.html

b.                            Lisan

Video “Nyontek” (you tube) https://www.youtube.com/watch?v=O_jzDuYT7Bs

2.       Struktur dan kaidah teks cerpen

Struktur:

ABSTRAK ringkasan atau inti cerita

ORIENTASI pengenalan latar cerita

KOMPLIKASI urutan kejadian yang dihubungkan secara sebab akibat

EVALUASI  konflik diarahkan pada pemecahan, sehingga tampak penyelesaiannya

RESOLUSI pengarang mengungkapkan solusi dari berbagai konflik

KODA nilai / pelajaran yang bisa diambil dari cerita tersebut

Kaidah:

1.cerpen harus pendek

2.cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal

3.cerpen harus padat dan ketat

4.cerpen harus kelihatan nyata

5.cerpen harus memberikan kesan tuntas

6.mayoritas menggunakan kalimat langsung atau juga kalimat tidak langsung yang menunjukkan percakapan

7. menggunakan majas/ gaya bahasa

 

  1. Model/Metode Pembelajaran

1.    Pendekatan Pembelajaran Scientific

2.    Model Pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery Learning)

3.    Metode Diskusi, Penugasan

 

F.      Media Pembelajaran

1.                                                                              Laptop dan LCD

2.                                                                              Tayangan teks cerpen  (lisan maupun tulis)

G.    Sumber Belajar

ü Buku Bahasa Indonesia kelas XI SMA/ SMK/ MA/ MAK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2013

ü KBBI

ü Internet

 

 

H.    Langkah-langkah Pembelajaran

     
Kegiatan
 
Deskripsi Kegiatan
Alokasi waktu
Pendahuluan
 
 
 
 
 
 
 
Kegiatan Inti  :
  
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Kegiatan Penutup:
 
1.      Guru mempersilakan seorang peserta didik untuk memimpin doa bersama ( bila pada jam pertama)
2.      Guru memberi salam dan memberi pertanyaan yang berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya
3.      Guru memberikan informasi kompetensi materi, tujuan, manfaat, dan langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan kepada peserta didik.
 
1.      Pengetahuan dan kemampuan peserta didik tentang teks cerpen yang beredar di masyarakat dipancing oleh guru dengan memperlihatkan contoh teks cerpen
2.      Peserta didik diberi stimulation (stimulasi) dengan cara dipersilakan mengamati video pendek “Nyontek” (you tube) https://www.youtube.com/watch?v=O_jzDuYT7Bs
serta membaca contoh teks cerpen “Percintaan Kepompong” dari http://ceritaindonesia.angelfire.com/cerita-pendek-percintaan-kepompong.html
3.       Peserta didik dipersilakan untuk menanyakan hal-hal seputar cerpen yang dikaitkan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari
4.       Peserta didik yang telah duduk sesuai kelompoknya diarahkan untuk membuat problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) dengan cara mengidentifikasi topik yang berkenaan dengan materi struktur dan kaidah teks cerpen serta interpretasi makna teks cerpen untuk kemudian membuat rumusan hipotesis
5.      Peserta didik diberi kesempatan untuk melakukan data collection (pengumpulan data) dengan cara mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis melalui mencari dan membaca contoh-contoh cerpen lain sebagai bahan untuk dieksplorasi.
6.      Peserta didik juga dipersilakan untuk membaca literatur lain untuk mengeksplorasi struktur dan kaidah teks cerpen serta interpretasi makna teks cerpen.
7.      Setelah mengamati dan membaca kembali teks cerpenyang ditayangkan guru, tiap kelompok melakukan data processing (pengolahan data) dengan cara mengklasifikasikan, mendiskusikan dengan teman satu kelompok untuk merangkum dan menyajikan melalui presentasi.
8.      Empat kelompok (yang dipersilakan secara acak) secara bergiliran mempresentasikan rangkuman tersebut sedangkan kelompok lain merespon/ menanggapi dan bersama-sama melakukan verification (pembuktian) dengan cara memeriksa secara cermat, mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari
9.      Dengan tanya jawab guru mengarahkan peserta didik pada generalization (generalisasi/kesimpulan) mengenai struktur dan kaidah teks cerpen, serta interpretasi makna teks cerpen
10.  Peserta didik dipersilakan untuk menuliskan simpulan yang telah ditetapkan mengenai struktur dan kaidah teks cerpen serta hasil interpretasi makna teks cerpen.
 
1.      Guru memberikan kuis berkenaan dengan aspek pengetahuan dan keterampilan.
2.      Guru memberikan arahan kegiatan berikutnya dan tugas pengayaan
3.      Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan memberikan pesan agar peserta didik selalu belajar.
20 menit
 
 
 
 
 
 
 
130 menit
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
30 menit

 

I.     Penilaian

1.                     Teknik penilaian: pengamatan dan tes tertulis

2.                     Prosedur penilaian:

1.                                                                            Penilaian Proses

1.1.Pengamatan (sikap)

No.
Aspek yang Dinilai
Teknik Penilaian
Waktu Penilaian
Instrumen Penilaian
Ket.
1.
Spiritual (Religius)
Pengamatan
Selama pembelajaran dan saat diskusi
Lembar Pengamatan
 
2.
Tanggung jawab

          Kisi-kisi penilaian

No.
Aspek
Indikator pencapaian
Skor (TIDAK PERNAH)
1
Skor
(KADANG-KADANG)
2
Skor
(SERING)
 
3
Skor
(SELALU)
 
4
1.
Spiritual
(Religius)
Mensyukuri anugerah Tuhan akan keberadaan bahasa Indonesia
a.    Berdoa sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu.
b.   Memberi salam pada saat awal dan akhir presentasi sesuai agama yang dianut.
c.    Mengucapkan syukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu.
d.   Memelihara hubungan baik dengan sesama umat ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
e.    Bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa;
 
 
 
 
2.
Tanggung jawab
Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam melaksanakan diskusi
a. Melaksanakan tugas individu dengan baik
b.      Menerima risiko dari tindakan yang dilakukan
c.       tidak menyalahkan/menuduh orang lain tanpa bukti yang akurat
d.      Mengakui dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan
e.       Tidak menyalahkan orang lain utk  kesalahan tindakan kita sendiri
 
 
 
 

Petunjuk Penskoran tiap aspek sikap :

Skor akhir menggunakan skala 1 sampai 4

Perhitungan skor akhir menggunakan modus.

2.      Penilaian Hasil

2.1.Tes Tertulis (kuis) (pengetahuan)

Indikator Pencapaian Kompetensi
Teknik
Penilaian
Bentuk
Penilaian
Instrumen
1. Mengungkapkan kembali struktur isi teks cerpen
 
       
Tes tertulis (kuis)
Isian
1. Struktur cerpen yang berfungsi memberikan gambaran pengenalan latar cerita disebut… .
2. Evaluasi yang baik harus memberikan amanat yang baik untuk pembaca. Syarat evaluasi yang baik adalah… .
3. Amanat dalam cerpen seharusnya nampak jelas pada struktur … .
4. solusi dari konflik diungkapkan pengarang di dalam struktur yang bernama… .
5. komplikasi yang baik hendaknya menghubungkan urutan kejadian secara … .
2.Mengungkapkan kembali kaidah bahasa teks cerpen
Tes tertulis (kuis)
Isian
6.                  Kaidah cerpen diarahkan pada dua hal yaitu kaidah…. dan… .
7.      Kaidah cerpen yang menyatakan bahwa cerpen harus padat dan ketat memiliki arti… .
8.      Mengapa cerpen harus tuntas?
9.      Gaya bahasa dalam cerpen berfungsi untuk… .
10.  Apakah cerpen harus bersifat fiktif?

Jawaban

 

1.                                                                                                                                 Orientasi

2.                                                                                                                                 Syarat : konflik harus diarahkan pada pemecahan

Konflik harus mencoba menampakkan penyelesaian yang jelas

3.                                                                                                                                 Koda

4.                                                                                                                                 Resolusi

5.                                                                                                                                 Sebab akibat

6.                                                                                                                                  Isi dan bahasa

7.                                                                                                                                 Singkat, padat isi dan makna, jalinan peristiwa harus erat.

8.         Cerpen harus tuntas karena bila tidak, cerpen tidak akan mampu memberikan amanat yang jelas kepada pembaca.

9.         Memperindah bahasa cerpen dan memberi efek yang berbeda dibandingkan dengan teks ilmiah.

10.     Belum tentu. Cerpen dapat juga diambil dari kenyataan, namun pada penuangannya tidak harus sama persis dengan kenyataan.

 Pedoman Penskoran

Soal nomor 1 - 10

Aspek
Skor
Peserta didik menjawab benar
10
Peserta didik menjawab tidak lengkap
7
Peserta didik menjawab salah
3
Peserta didik tidak menjawab
0

 

2.2.Tes praktik-proyek ( keterampilan )

Interpretasilah makna teks cerpen terlampir!

Rubrik Penilaian Keterampilan menginterpretasi makna Teks cerpen

No.
Aspek
Deskripsi
Ya
Tidak
1.
Ketepatan interpretasi makna teks cerpen
Sudah tepatkah interpretasi makna  teks cerpen?
 
 
2.
Ketepatan penggunaan bahasa dan ejaan
Apakah penggunaan bahasa dalam menginterpretasi makna teks cerpen sesuai kaidah dan EYD?
 
 

                       

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 1 Lembar Pengamatan

 

PENGAMATAN SIKAP

 

Mata Pelajaran             : ...............................................................

Kelas/ Semester                       : ...............................................................

Tahun Ajaran               : ...............................................................

Waktu pengamatan                  : ...............................................................

 

Bubuhkan tanda V pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan

 

No.
Nama Siswa
Spiritual (Religius)
Tanggung jawab
TP
K
SR
SL
TP
K
SR
SL
1.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
2.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
3.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
4.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
5.