Tugas 2 Mengabstraksi dan Mengonversi Teks Cerita Pendek

Tugas 2
Mengabstraksi dan Mengonversi Teks Cerita Pendek

Pada tugas ini kalian bertugas secara mandiri mengolah catatan kepustakaan,
catatan lapangan, dan hasil wawancara menjadi sebuah teks cerita pendek secara utuh.
Berikut terdapat teks penceritaan yang mengisahkan sebuah kisah sukses seorang
wirausaha muda dan cantik berasal dari Kota Padang. Dalam bukunya yang berjudul
Meraih Mimpi Jadi Pengusaha, ia berbagi pengalaman mengenai kesuksesannya menjadi
pengusaha muda yang diawali dengan keterpurukan. Di bagian sampul buku itu tertulis
Kisah Getir Perjalanan Hidup Seorang Mahasiswa yang Berhasil Memiliki Perusahaan
di Usia 20 Tahun.
Kisah hidup Resti Hartika (nama pengusaha muda itu) patut kalian tiru. Ia
telah berhasil menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya. Agar kalian lebih
termotivasi, sebaiknya kaliam membaca penceritaan di bawah ini. Setelah itu, buatlah
abstraksi dari teks itu. Setelah kalian mengetahui pokok permasalahannya, kalian
diharapkan bisa mengonversi teks itu menjadi sebuah teks cerita pendek yang menarik.
Meraih Impian
1. Terusik lamunanku saat terngiang sebaris kata ayah yang selalu berulang
menelusup ke telingaku, “Nanda, kamu pasti bisa!” Kata-kata ayahku
laksana dentuman meriam di rongga dadaku. Setiap kuingat kata-kata itu,
semakin berat beban yang kurasakan, terlebih, urutanku sebagai sulung dari lima bersaudara. Tidak mudah bagiku untuk menjadi sulung. Kurasakan
pula beban kedua orang tuaku yang semakin menjadi. Ayah, di luar segala
kewajibannya sebagai PNS, terlibat aktif di dunia jurnalistik dan organisasi.
Tidak mengherankan jika bunda terpaksa turun tangan untuk menopang
keuangan keluarga dengan membuka sebuah warung kecil-kecilan.
2. Padatnya aktivitas ayah dan bunda terekam kuat dalam benakku. Kerja
keras seakan menjadi menu wajib bagiku. Namun, ada hal yang menjadi
titik lemahku. Dua kali tangisku pecah ketika cita-citaku tak tersampaikan.
Pertama, ketika gagal masuk fakultas kedokteran karena faktor biaya. Kuingat
kata-kata bunda di telingaku.
“Kita tak cukup uang untuk kamu masuk Fakultas Kedokteran. Sabar ya,
Nak!”, ucap Bunda lembut, tetapi pasti.
Kedua, ketika gagal mendaftar ke STPDN karena tinggi badan kurang.
Kegagalan itu tentu saja membuatku terluka. Ayah dan bunda tiada putusputusnya
membangkitkan diriku hingga kedua kakiku benar-benar mampu
berpijak.
3. Untuk mengobati luka hatiku, kuputuskan untuk membantu bunda menjaga
warung. Sambil menjaga warung, sedikit demi sedikit belajar dari ketegaran
bunda dalam menghadapi kesulitan hidup. Sering bunda tidur larut karena
harus menyambung potongan perca menjadi sebuah bed cover untuk dijual.
Bed cover itu dititipkan di sebuah toko swalayan. Tiada pernah putus doaku
kepada Sang Khalik agar bunda senantiasa dikaruniai kesehatan lahir dan
batin.
4. Salah satu doaku terkabul. Suatu hari ayah memutuskan untuk berhenti bekerja
dan berorganisasi. Ayah mulai melirik dunia usaha. Sebagai langkah awal, ayah melahap buku-buku sederet profil pengusaha sukses, sebut saja Bob Sadino,
Bill Gates, Steve Jobs, Richard Branson, Donald Trump, dan Elang Gumilang.
Benih pohon bisnis tumbuh pesat pula dalam diriku, terlebih setelah aku
menyerap isi beberapa buku yang menyampaikan motivasi.
5. Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa
Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala
finansial mendorongku untuk merambah dunia kerja di samping kuliah.
Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang
kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita
patungan untuk membeli kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak
Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis
pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.Bunda berkunjung ke tokoku dan dia memuji, “Wah, ternyata Nanda sudah
meraup banyak untung nih”.
Kesibukan berbisnis tidak melemahkan prestasi di ranah akademis. Aku
berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang memukau.
6. Seiring waktu, jaringan bisnisku meluas. Padatnya jadwal ceramah ayah
sebagai motivator mendorongku untuk membantunya. Jadilah aku berkiprah
dalam dunia event organizer. Lahan bisnis ini menuai sukses yang tergolong
gemilang. Jaringan konsumen luas semakin membuka peluang untuk
berkiprah di bidang lain. Usaha penjualan tiket pesawat pun kulakoni hingga
membuahkan beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini.
7. Kesuksesan ini tidak patut membuatku angkuh, terutama di hadapan Tuhan.
Hanya karena ridha-Nya aku dapat meraih semuanya. Tidak luput bimbingan
dan motivasi dari kedua orang tuaku turut membuatku tegar dalam berbagai
kesulitan.
Diadaptasi dari Hartika, Resti. 2013. Meraih
Mimpi Jadi Pengusaha. Padang: Debe Mustika.


buku pegangan siswa bahasa Indonesia ekspresi diri dan akademik kelas XI