Tugas 1 Memahami Karakter Cerpen

Tugas 1
Memahami Karakter Cerpen



“Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina”
Karakter utama sebuah cerpen adalah peristiwa, yaitu suatu kejadian yang
di dalamnya ada hubungan antara tokoh, latar, dan alur. Peristiwa dalam cerpen
menunjukkan dua pola, yaitu peristiwa monologis yang merupakan penggambaran
keadaan dan kedirian yang bersifat tunggal. Dalam hal ini, tokoh bermonolog atau
penulis menggambarkan keadaan. Peristiwa lainnya adalah dialogis, yang merupakan
penggambaran keadaan hubungan tokoh dengan tokoh dalam suatu keadaan tempat
dan waktu tertentu. Baik peristiwa monologis maupun dialogis selalu ada dalam sebuah
cerpen.
Bacalah cerpen “Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina” berikut ini. Perhatikan dua
peristiwa itu yang membangun cerpen tersebut.
Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina
Hanna Fransisca
Kemilau emas memancar saat Zhu membentangkan benang emas di sudut
kain pelepai. Sinar perak jarum di tangannya menyulam satu kehidupan tajam
yang menusuk. Udara Danau Menjukut berbau bunga kopi, bertiup perlahan
memasuki rongga hati, dan menghempas dada Zhu pada barisan awan di langit menuju ke arah laut, ke arah pantai, ke arah teluk Tanjung Cina. Di sanalah
Sulaiman, lelaki yang telah menebas separuh umurnya, telah terkubur dan pergi.
“Sulaiman. Sulaiman. Itulah Zhu, dan aku bicara padamu!”
Bukit Barisan Selatan yang memanjang bergelombang seperti hidup, karangkarang
yang menjorok runcing dan tegak menuju ke arah perih laut Hindia, dari
Krui hingga Pulau Betuah. Dan bunga-bunga kopi, dan pucuk-pucuk damar,
dan awan awan biru—semua jelmaan tanah Tuhan ini, semata tercipta untuk
kesetiaan cinta pada Sulaiman.
Kegembiraan separuh umur, dan kesedihan pada ujung hidupnya, menciptakan
runcing jari-jari Zhu pandai menari. Menari dan bernyanyi di atas hamparan kain
sulaman. Menyerut seluruh jiwa yang sedih, yang gembira, yang mabuk, dan putus
asa. Lautan asmara, nyanyian cinta, kerinduan perih, dan pujian kepada tanah
tempat lelakinya terkubur. Ia menyeru di atas sehelai kain pelepai, menggambar
pola-pola yang rumit, dan membayangkan seluruh dirinya masuk. Menjadi naga
yang menggerakkan seluruh gelombang tanah, bukit, gunung-gunung, menjadi
liukan benang-benang emas dan rajutan benang-benang perak yang berkelit dan
berkelindan dalam gulungan warna aroma ombak, hijau daun, putih awan.Ada merah api cinta yang semerbak di sana, ada kuning sejarah yang
membentang di atas helai kain pelepai setelah dicipta berhari-hari. Begitu indah,
dan selalu: delapan belas hari kemudian ia akan berjalan dari Danau Menjukut
ke arah bukit. Mencari angin yang bisa menyampaikan gema suaranya ke arah
laut. Mencari tempat di mana ia bebas memandang pada titik pantai Tanjung
Cina, yang diapit Selat Sunda serta Samudera Hindia. Di atas batu ia selalu akan
meniru gerak laut, mengibarkan kain tapis dan berteriak gembira.
“Sulaiman. Sulaiman. Itulah kain tapismu yang ke 340! Akulah Zhu, istrimu.
Perempuan yang telah menciptakan tarian sulaman benang dari separuh jiwaku.
Dan kini aku bicara padamu! Sulaiman. Sulaiman. Itulah Zhu, dan aku bicara
padamu!”
***
Setiap puncak Krakatau menyembul saat gelombang laut surut di pagi hari,
maka akan terlihat ribuan walet terbang berputar-putar mencari kehangatan
perpaduan kepundan dan matahari—yang kehangatan udaranya mungkin tidak
akan pernah diketemukan di benua manapun. Lalu menjelang sepenggalah
hari, gerombolan hitam ribuan burung laut yang gesit itu akan bergerak cepat
memintas selat menuju teluk Lampung dan Teluk Semangka. Di sanalah surga
dari segala keriangan makhluk hitam itu tersedia, dari pagi hingga petang.
Dari rantai makanan hingga kenyamanan angin, udara, dan matahari, yang
mencipta gairah untuk syarat berkembang-biak—ratusan, bahkan mungkin
ribuan tahun—tersedia secara alamiah sepanjang hari. Seiring waktu bergeser,
hingga senja mulai membayang, mereka kemudian akan bergerombol berlesatan
menuju pulau Tabuan, menunggu gelap sempurna. Lantas gerombolan hitam itu
akan memecah diri menjadi kelompok-kelompok kecil, dan bergerak bercericit
menuju berbagai arah mata angin: Kota Agung, Kalianda, dan Bandar Lampung.Di kota-kota beraroma pantai itulah, mereka menemukan sarang. Istana tempat
terlelap di malam hari, yakni rumah-rumah gelap, lembab dan nyaman, berupa
gedung-gedung tinggi menjulang berbentuk kotak beton tak berjendela.
Hamparan ratusan kotak beton di seantero kota-kota itu, adalah jebakan cerdik
yang dibikin oleh manusia untuk memindahkan mereka dari kehidupan lepas
di pantai-pantai berkarang sepanjang Bukit Barisan Selatan. Sesungguhnyalah,
walet adalah makhluk yang mencintai kenyamanan, kemudahan, dan jalan
pintas yang praktis. Mereka tentu tidak diciptakan Tuhan untuk berpikir tentang
kebebasan. Maka bermigrasilah, setiap hari ratusan hingga ribuan walet memadati
jebakan-jebakan nyaman yang dibuat untuk diburu. Diburu sarangnya, yang
kelak diperjualbelikan sebagai barang ajaib dengan harga teramat tinggi.
Migrasi walet yang membawa harta karun dari sarangnya yang tak ternilai,
adalah juga berarti migrasi manusia (para pemburu walet) yang bergelombang
datang dari berbagai pulau seberang. Maka begitulah sejarah kota kemudian
terbentuk, menjadi bandar yang ramai, menjadi tempat singgah para pelancong
yang akhirnya menetap—kawin dan beranak-pinak. Maka begitu jugalah sejarah kedatangan Zhu yang tiba pertama kali ke Bandar Lampung, dengan membawa
pesona kecerdasan dan keuletan, serta aroma kecantikan perempuan matang di
usia remaja—seorang anak saudagar besar dengan bakat cemerlang.
Zhu mengawali sejarah dengan melakukan perjalanan jauh dari pulaunya,
Kalimantan Timur. Meninggalkan leluhur menuju satu titik: kota berteluk hangat
di Selat Sunda. Para pedagang antar pulau telah mengabarkan sebuah rahasia
besar di hadapan ayahnya, Zhu Miau Jung, “Ada ratusan ribu walet memadati
puncak gunung tengah laut di Selat Sunda. Ada teluk di ujung timur pulau
Sumatera, yang memanjang dengan tebing-tebing karang menuju deretan Bukit
Barisan. Ada kota-kota beraroma pantai. Ada beberapa orang berhasil membuat
jebakan rumah bagi ribuan walet yang malang!”
Begitulah Zhu, memulai sejarah dengan membuat jebakan dari sepetak
tanah yang ia beli, dan membangunnya menjadi istana walet, dengan keahlian
yang tidak diragukan. Ya ya ya, dialah perempuan dengan aroma laut yang
berpadu keindahan teratai. Dialah perempuan dengan masa depan gemilang,
dari kegigihan dan keuletan. Dialah yang sejak lahir dididik sebagai pemburu
walet ulung yang kelak berhak menyandang keahlian serta nama besar Zhu Miau
Jung—pemburu walet paling terkenal lantaran ketajaman instingnya.
Konon Zhu Miau Jung telah melahirkan legenda, bahwa hanya dialah yang
bisa mengerti bahasa burung! Nyaris seluruh pedagang besar di Nusantara Timur
percaya. Maka ketika berita keajaiban tentang Selat Sunda tiba, ia tertantang
untuk mendorong putri satu-satunya pergi. “Bukan lantaran usiaku telah mulai
tua. Bukan itu. Petualangan untuk sebuah penaklukkan tak pernah mengenal
umur. Tapi kau harus harus segera menetapkan pilihan hidupmu. Pergilah, Zhu,
kau sudah pantas dan matang untuk memulai. Buru dan tangkap walet-walet itu,
dan letakkan dalam jumlah ribuan di dadamu, untuk melanjutkan nama besar
ayahmu, untuk nama baik leluhurmu!”
Ada deraian hujan pada matanya sempit, membuat setiap orang yang
dijumpainya tunduk dengan senang hati. Keramahan pada rambutnya panjang berkibar, kesopanan pada putih kulit seterang bulan, dan lesung pipitnya yang
berkali membikin lelaki mabuk lantaran rindu. Zhu Ni Xia, menjadi terkenal
seantero mata angin.
Dari Liwa hingga Kotabumi, bahkan orang-orang Menggala seringkali singgah
untuk menukar pisang dan getah damar, dengan beras dan gula. Dari walet
menjadi bandar, meluaskan niaga dengan membangun puluhan gudang: tempat
menukar damar menjadi gula, atau ratusan karung kopi ditukar dengan kain dan
gemerincing mata uang. Kapal-kapal barang yang singgah selalu menjabat tangan
Zhu dengan hormat, dan menyampaikan salam kebesaran atas nama marga Zhu.
“Selamat dan sejahtera, pada bisnis Nona Zhu yang semakin maju.”
***
Akulah lelaki yang menantang angin di malam ketika serentetan tembakan
menggema sepanjang malam. Nyala api membumbung, membakar lumbung,
membakar atap dan dinding—puluhan rumah. Demi Tuhan, kesedihan turun
lewat langkah-langkah bergegas, dan teriakan kematian menggema pada ladangladang
kopi. Sayup di Balai Kampung sekumpulan lelaki memainkan gamelan
bambu cetik, dengan nada putus-asa, seolah dengan pukulan-pukulan itu mereka
menyatakan bahwa mereka adalah sekelompok petani pribumi yang punya hak
sama, dan tak sudi untuk pergi.
Sejak sore hari, menjelang maghrib, tanda-tanda itu sudah dimulai. Made
Sukari berlari menuruni bukit, sambil terus menunjuk ke arah lembah, “Celaka.
Mereka betul-betul tengah bergerak! Mereka hendak menyerbu!”
Dua ekor gajah telah mati, seminggu sebelum kegawatan semakin memuncak,
dan Made Sukari berlari memberi tanda menuruni bukit. Wajah-wajah pucat dan
gemetar menjalar, melewati ladang, kebun, dan rumah-rumah yang langsung
siaga.
“Siapa lagi yang telah membunuh gajah-gajah itu? Demi Tuhan, ini pertanda
celaka!”
Dua gajah telah mati. Sebelumnya, empat ekor gajah ditemukan tanpa nyawa
dengan leher terbelah dan gading lenyap meninggalkan dua bolongan kasar di
kepala. Tak ada petani di Kualakambas yang tega membunuh makhluk raksasa
bermata lembut. Puluhan, bahkan ratusan kali mereka menghalau gajah-gajah
yang tersesat di ladang, hanya dengan teriakan serta sapaan, “Pergilah manis, hus,
hus, pergilah dari ladang kami.” Antara gajah dan petani telah memiliki tautan
hati yang sama. Tak perlu ada parang menempel, apalagi sampai membelah leher.
Mereka akan pergi dengan langkah lamban, dan anak-anak seringkali
menyanyikan nyanyian gembira sebagai pengiring, “Pergilah wahai barisan
gendut, menuju hutan, bersama angin, menyongsong hujan....”
Tapi gajah-gajah itu telah terlanjur mati, dibunuh dengan keji. Dan gajah yang mati akan menuntut balas dari negara. Sudah terlalu lama kampung ini berurusan
dengan negara. Bahkan 18 tahun silam, ayahku terbunuh bersama 200 petani kopi
yang dianggap membangkang, memberontak, hanya lantaran ia kukuh berkata:
“Sudah berpuluh tahun kami berdiam di sini, sebelum kawasan hutan negara
ditetapkan. Kami tidak tinggal di hutan, tidak merusak hutan, dan tidak punya
niat menjarah hutan. Kami adalah petani! Kami adalah pribumi, meski leluhur
kami berasal dari berbagai pulau dan berbagai suku! Kami adalah....”
Akulah lelaki yang menantang angin di malam ketika serentetan tembakan
menggema sepanjang malam. Akulah yang seringkali berkata kepada mereka,
bahwa kematian gajah-gajah hanyalah alasan agar kami semua dianggap bersalah,
dan berhak untuk dipaksa pergi. “Pergilah kalian, bakar kebun kopi dan ladang,
untuk dikembalikan menjadi hutan!” begitulah yang seringkali kudengar dari mulut ibuku saat menceriterakan bagaimana ayahku mati. Maka tak perlu lagi
bertanya tentang siapa pembunuh gajah, kenapa gajah harus dibunuh. Demi
Tuhan, ketika Made Sukari berlari menuruni bukit, dan para lelaki berkumpul
di Balai Kampung lalu memainkan gamelan bambu cetik dengan putus asa, aku
sudah berkata: “Larilah ke hutan. Carilah jalan.”
Tapi mereka bergeming. Lalu suara tembakan, lalu asap pertama mengepul,
lalu suara-suara jeritan, teriakan dan entah—barangkali kematian. Gelap aku
menerabas pepohonan, menyeret tangan Nyiwar–ibuku. Berkelebat di pekat
hutan, terus berlari, menerabas berhari-hari. Entah berapa waktu telah hilang
digerus perih dan lapar, dan kesakitan. Hingga tiba di kampung yang entah,
sebuah jalan raya, dan truk pengangkut karet membawaku ke depan pintu gerbang
ini.
“Tolong bukakan gerbang. Katakan pada Nona Zhu, saya Sulaiman. Saya tidak
sedang membawa barang. Saya harus ketemu Nona Zhu.”
***
Sulaiman, dan berpuluh lelaki yang ia kenal baik, biasanya datang membawa
karung-karung biji kopi kering dengan kualitas terbaik. Tapi kali ini, Zhu melihat
sesosok lelaki berantakan, penuh goresan luka, serta menggenggam erat tangan
perempuan tua. Lelaki itu menggembol bungkusan kain—yang jelas pastilah
bukan biji kopi—dan memandang kepadanya dengan tatapan gawat. Zhu
melangkah mundur dengan refleks, “Cepat masuk!”
“Mohon maaf, Nona Zhu, ini ibu saya,” Sulaiman memperkenalkan Nyiwar.
“Saya tidak membawa...”
“Sutinaaaah,” Zhu memanggil pelayan, lalu menatap Sulaiman, “Kalian belum
makan berhari-hari? Demi Tuhan, aku sudah mendengar berita-berita soal
kerusuhan di Kualakambas. Hampir semua sopir menceritakan isu-isu simpangsiur Astaga.”
“Saya, Nona,” seorang pelayan perempuan muncul. “Segera siapkan makanan!”
Zhu menghirup nafas dalam-dalam. “Setiap petugas yang datang memeriksa
gudangku, selalu aku katakan, bahwa aku tak pernah menerima biji kopi dari
perkampungan yang masuk kawasan hutan negara. Tapi kau tahu, Sulaiman,
bertahun-tahun aku tetap menerima kopi dari kalian. Selalu dalam pikiranku,
bahwa ada sesuatu yang salah di negeri ini. Nah, sampai dua hari lalu, aku
mendapat penekanan yang lebih keras, bahkan ancaman, jika ada karung-karung
biji kopi yang dicurigai berasal dari kawasan hutan negara, gudangku akan
dibakar. Nah, bisa apa aku, Sulaiman? Sekarang engkau makanlah bersama ibumu.
Sutinah sudah menyiapkannya. Setelah itu, pergilah.... Demi Tuhan, Sulaiman,
aku tak bisa berbuat apa-apa. Bisa apa aku, dalam kondisi seperti ini? Aku tidak
bisa menawarkan kalian untuk tinggal.” “Saya memang tidak tahu di mana saya harus tinggal, Nona. Saya datang ke
sini lantaran bertahun-tahun Nona melindungi kami, dengan cara tetap membeli
kopi dari kebun kami meskipun teramat besar resiko buat Nona. Tentu saya tidak
akan lagi merepotkan....”
Ada nada perih, dan Zhu tak sanggup menatap wajah lelaki itu.
[...]
Selalu ia berkata: “Belum saatnya engkau mengerti, Zhu. Tetap tinggallah di
kamar. Jangan keluar rumah. Jangan bercerita pada siapa pun, bahwa ada banyak
orang di rumah ini. Engkau mengerti?”
Dan ia hanya mengangguk. Dan bertahun-tahun kemudian, barulah ia
mengerti.
Lalu kini, di hadapannya, seorang lelaki muda dan seorang perempuan tua,
menjadi pelarian dan datang di depan gerbang pintu rumahnya. Ia melihat kedua
orang itu dari jauh, dari seberang meja makan, dan air mata Zhu menitik dalam
diam. Demi Tuhan, bukan dua sosok di meja makan itulah yang ia lihat, tapi
bayangan sebelas tahun silam serta keagungan ayahnya yang mampu berdiri
tegak di antara para pelarian, meskipun penuh resiko.
“Terimakasih, Nona. Hanya delapan belas kain tapis itulah barang yang bisa
kami bawa. Terserah Nona, mau dinilai berapa. Kami membutuhkan uang untuk
pergi ke Jawa. Delapan belas kain tapis ini, disulam ibu saya dengan sepenuh jiwa.
Bertahun-tahun,” begitulah Sulaiman berkata.
Lalu Zhu melihat kepergian dua orang itu. Terpaksa hanya bisa melihat.
Dengan hati perih.
***
Siapa nyana, bahwa delapan belas helai kain tapis buatan tangan Nyiwar,
telah membuat batin Zhu tercabik parah dan gila, begitu teramat menderita.
Ia tak pernah membayangkan, bahwa sehelai kain akan menyimpan getaran
dahsyat yang langsung menusuk pada jiwanya yang paling dalam. Pola-pola dari
silangan benang emas dan benang perak, liukan-liukan garis yang menyerupai
api, cinta, dendam, serta gambar-gambar dekoratif dalam olahan lambang daun,
tanah, laut dan langit, telah menuntunnya untuk berkaca pada dirinya, serta
hatinya. Alangkah dalam sentuhan jiwa yang paling perih, alangkah gila cinta
yang tertahan rindu dan kehilangan, alangkah ganas dendam yang terekam
dalam keputusasaan, alangkah indah jiwa-jiwa yang halus! Sungguh Zhu merasa
telanjang dan malu. Betapa ia malu.
Dengan segera ia menyebar orang-orang untuk mencari jejak Sulaiman.
“Carilah mereka. Geledah setiap kamar penginapan. Periksa setiap ruas jalan.
Susuri desa dan jalan pintas perkampungan. Mereka baru pergi dua belas jam!
Kalian paham? Bawa mereka ke sini, bawalah mereka.... Zhu memberi perintah pada semua yang ada, setengah memohon, setengah
menangis. Ia lantas berlari ke tengah halaman, melihat langit, dan mencoba
menemukan wajahnya sendiri di keluasan langit. Pada awan-awan yang berarak.
Pada biru warna yang menyerupai cermin. Hingga larut malam tak ada kabar.
Hingga Zhu tertidur memeluk delapan belas kain tapis.
Hingga harapan pagi harinya berubah semakin tipis. Dan pada siang hari,
seorang pencari mengetuk ruangan Zhu sambil berkata,
“Mereka sudah ada di depan, Nona.”
Alangkah aneh, saat Zhu langsung menghambur dan memeluk Nyiwar, “Tidak
sepatutnya aku meminta kalian pergi. Aku meminta maaf. Tinggallah di sini.”
“Terimakasih Nona. Tapi kenapa?” Sulaiman menyela.
Ia merasa heran.
“Aku malu dengan kebesaran Ayah, kemuliaan leluhur, yang menitipkan namanya
padaku. Kami pernah mengalami hal serupa denganmu, Sulaiman. Dan kini, aku
siap dengan segala resiko. Sekali lagi, aku mohon, maafkan keputusanku yang
terburu-buru kemarin. Tinggallah di sini.” Betapa Zhu ingin terus memeluk Nyiwar,
melihat kedalaman matanya, merasakan kerut tangannya, dan melihat ada apakah di
balik tubuh ringkih yang sesungguhnya teramat perkasa ini? Dari mana datangnya
kehalusan jiwa sehingga tangan keriput ini bisa mengalirkan keindahan, kobaran
cinta, kerinduan sedih, serta dendam putus-asa, lewat tarian sulaman kain tapis yang
begitu menggetarkan? Ia ingin bertanya. Ia ingin menyelam. Ia ingin merengkuhkan
seluruh tubuhnya, dan dengan hormat memanggil, “Ibu”.
Maka setiap malam, ia selalu datang mengajak Nyiwar menyelami langit di
halaman, duduk berdua, melihat laut melewati bulan.
“Bulatan cahaya bulan, bunga kopi, dan warna laut di atas kain tapis, seperti
hamparan tanah, Nona. Benang emas akan mengalir dengan gerak batang jarum sebagai takdir. Seperti harapan ketika membesarkan Sulaiman. Seperti cinta yang
tak habis pada ayah Sulaiman. Seperti mencintai rumah dan tanah. Cobalah Nona
genggam sekepal tanah, rasakan denyutnya. Kain tapis, benang, warna-warna,
semua akan berdenyut jika dirasakan dengan benar....”
Nyiwar akan terus bicara, dan Zhu dengan sungguh-sungguh menyimak.
Kadang tentang masa kecil Sulaiman. Tentang penembakan. Tentang air mata
yang mengalir saat menanam benih kopi. Tentang gelak tawa. Tentang air hujan.
Tentang pembakaran rumah. Tentang apa saja.
“Jadi Ibu membesarkan Sulaiman sendiri?”
“Dengan tanaman kopi, ya, dengan sedikit getah damar. Semua, semua, semua
adalah keringat kami. Dan juga doa.” Nyiwar kadang terkekeh saat menceritakan Sulaiman.
“Ia seperti ayahnya, dengan naluri besar melindungi dan membela para petani.
Menyelundupkan
biji-biji kopi agar tetap bisa dijual, dan berbagai upaya agar para
petani bisa bertahan, di tengah berbagai ancaman. Ia seperti ayahnya. Tak bisa melihat
orang lain menderita. Kau tahu, Nona, ia melihat dengan kepala sendiri, saat ayahnya
ditembak mati.”
Adakah yang gentar menolak takdir? Saat cahaya langit terus berganti, maka
cahaya hati juga bisa berganti. Setiap kali Zhu memandang di kejauhan kamar,
tempat lelaki itu membuka jendela, ia selalu melihat bayangan ribuan kunangkunang
yang melesat memenuhi hatinya. Ia tiba-tiba saja merasakan bagaimana
angin yang bertiup dari kamar Sulaiman, adalah tiupan harum seribu bunga. Ia
benci jatuh cinta, tapi ia juga tak bisa menolak jatuh cinta. Berhari, berminggu,
kekaguman pada lelaki itu semakin tumbuh. Wawasannya yang luas, cara
bicaranya yang sopan, dan terutama: tindakan-tindakan berbahaya yang terus ia
lakukan meskipun ia dalam persembunyian. Ia terus menggalang kontak dengan
para petani, mencatat data, mencari bukti-bukti. Berkali Sulaiman tak pulang
dan Zhu menjadi cemas. Maka berkali ketika akhirnya Sulaiman muncul, rona
wajah Zhu menjadi purnama.
Zhu Ni Xia, perempuan matang yang kini telah memilih takdirnya. Pada
malam ketika kapal barang singgah di bandar, ia menitipkan pesan untuk ayahnya.
“Aku telah menemukan lelaki, Ayah! Dan aku jatuh cinta kepadanya.
Datanglah segera, untuk menjadi wali bagi putrimu tercinta.”
Ada purnama, ada cahaya, tapi ada lautan yang mengirimkan badai.
“Sampaikan pada Sulaiman, aku bersedia menjadi istrinya,” begitu ia meminta
kepada Nyiwar, dan begitulah Nyiwar mengatakan pada Sulaiman. Lalu bulan
berganti.
Ketika madu tumpah di lautan, ketika ia telah resmi memanggil Ibu kepada Nyiwar—perempuan lembut sekokoh karang—dan ia resmi memanggil Abang
kepada suami; angin ibukota tiba-tiba mengirimkan badai lebih besar pada
parasnya yang jelita.
Dari Teluk Jakarta sebuah kapal perang berpenumpang ratusan prajurit
merapat di bandar, mengendap di subuh hari. Mengepung kota, menyisir gunung.
Berita pemberontakan petani kopi kembali pecah menjadi prahara.
Segerombolan lelaki garang mendobrak gerbang pintu rumah pengantin jelita,
membakar gudang dan memporakporandakan segala.
Teriakkan kata penghianat dan penadah, mengawali letusan tembakan di pagi
buta. Sulaiman digelandang paksa meninggalkan ceceran darah, dan tatapan
penuh cinta. Kegembiraan separuh umur, dan kesedihan pada ujung hidupnya, menciptakan
runcing jari-jari Zhu pandai menari. Menari dan bernyanyi di atas hamparan
kain sulaman. Menyerut seluruh jiwa yang sedih, yang gembira, yang mabuk dan
putus asa. Lautan asmara, nyanyian cinta, kerinduan perih dan pujian kepada
tanah tempat lelakinya terkubur.
Ia menyeru di atas sehelai kain pelepai, menggambar pola-pola yang rumit, dan
membayangkan seluruh dirinya masuk. Menjadi naga yang mengerakkan seluruh
gelombang tanah, bukit, gunung-gunung, menjadi liukan benang-benang emas
dan rajutan benang-benang perak yang berkelit dan berkelindan dalam gulungan
warna aroma ombak, hijau daun, putih awan. Ada merah api cinta yang semerbak
di sana, ada kuning sejarah yang membentang di atas helai kain pelepai setelah
dicipta berhari-hari.
Begitu indah, dan selalu: delapan belas hari kemudian ia akan berjalan dari
Danau Menjukut ke arah bukit. Mencari angin yang bisa menyampaikan gema
suaranya ke arah laut. Mencari tempat di mana ia bebas memandang pada titik
pantai Tanjung Cina, yang diapit Selat Sunda serta Samudera Hindia. Di atas batu
ia selalu akan meniru gerak laut, mengibarkan kain tapis dan berteriak gembira,
“Sulaiman. Sulaiman. Itulah kain tapismu yang ke 340! Akulah Zhu, istrimu.
Perempuan yang telah menciptakan tarian sulaman benang dari separuh jiwaku.
Dan kini aku bicara padamu! Sulaiman. Sulaiman. Itulah Zhu, dan aku bicara
padamu!”
Jakarta, 28 Agustus 2010
Setelah membaca cerpen itu, cobalah kerjakan tugas berikut ini!
(1) Buatlah struktur teks cerita pendek “Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina” di atas ke dalam kolom yang tersedia. (2) Sekalipun ada peristiwa monologis dan dialogis sebagai peristiwa pembangun
cerita, tetapi hakikatnya peristiwa itu menunjukkan karakter yang sama, yaitu
peristiwa sebagai pembangun cerpen selalu terbentuk atas tokoh, latar, dan alur.
Ketiganya adalah pembangun cerita yang konkret atau disebut juga fakta. Fakta
yang konkret ini secara eksplisit membangun cerpen ataupun fiksi lainnya
sehingga ketiganya disebut sebagai fakta cerita. Melalui fakta cerita itulah
tema, pesan, amanat, tujuan, suasana, dan sudut pandang diaktualisasikan.
Oleh karena itu, belajar menulis cerpen harus diawali dengan pemahaman
fakta cerita ini. Ketiga unsur itu dijalin menjadi satu kesatuan peristiwa yang
indah, menghibur, dan memiliki konflik yang menarik.
(a) Tokoh dalam cerita merujuk pada “orang” atau “individu” yang
hadir sebagai pelaku dalam sebuah cerita, yaitu orang atau individu
yang mengaktualisasikan ide-ide penulis. Lewat tokoh itulah penulis
menyampaikan gagasannya. Agar kalian lebih memahami tokoh dan
penokohan itu, identifikasilah tokoh yang terdapat dalam cerpen
“Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina” itu, lalu deskripsikanlah tokoh itu. (c) Latar cerita merupakan lingkungan, yaitu dunia cerita sebagai tempat
terjadinya peristiwa. Dalam latar itulah segala peristiwa yang menyangkut
hubungan antartokoh terjadi. Latar dalam cerita biasanya mempunyai dua
tipe. Pertama, latar yang diceritakan secara detail. Hal ini biasanya terjadi
jika cerpen fokus pada persoalan latar. Kedua, latar yang tidak menjadi
fokus utama dalam masalah. Biasanya latar di sini hanya disebut sebagai
background saja sebagai tempat peristiwa, tidak dideskripsikan secara
detail.
Setelah kalian membaca cerpen “Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina” itu,
gambarkanlah latar yang membangun cerpen itu.
_________________________________________________________
_________________________________________________________
_________________________________________________________
_________________________________________________________
(d) Alur merupakan keseluruhan sekuen (bagian) peristiwa yang terdapat
dalam cerita. Alur adalah peristwa yang terbentuk karena proses sebab
akibat (kausal) dari peristiwa lainnya, yang membentuk rangkaian
peristiwa dalam cerita, dan berbagai peristiwa yang ada dalam cerita
memiliki hubungan yang erat, karena kehadiran satu peristiwa
menyebabkan hadirnya peristiwa yang lain. Alur itulah yang menjadi
struktur pembangun teks cerita pendek, yang di dalamnya terdapat
abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, dan koda.
Alur dalam cerita biasanya mempunyai kaidah sendiri, yang meliputi
tiga hal. Pertama, kemasukakalan (plausibilitas), artinya cerita memiliki
kelogisan. Kedua, rasa ingin tahu (suspense), artinya perasaan kurang
pasti terhadap peritiwa yang terjadi, khususnya yang menimpa tokoh yang
kemudian diberi simpati oleh pembaca. Keberadaan suspense ini akan
mendorong, menggelitik, dan memotivasi pembaca untuk setia mengikuti
cerita dan mencari jawaban terhadap kelanjutan cerita. Ketiga, adanya
kejutan (surprise), artinya peristiwa yang berisi kejutan dalam cerita.
Biasanya peristiwa yang dibangun pengarang di luar dugaan pembaca.
Dengan adanya kejutan, sebuah cerpen menjadi tidak membosankan.
Keempat, kepaduan (unity), artinya berbagai unsur yang ditampilkan
dalam alur cerita haruslah memiliki kepaduan. Setiap unsur yang ada
hendaknya membentuk satu kesatuan yang utuh sehingga keberadaan
antarunsurnya menentukan keberadaan unsur yang lain. Kalian sudah memahami alur yang membangun cerita pendek di atas.
Apakah kalian menemukan keempat kaidah alur itu di dalam cerpen yang
ada? Uraikanlah jawaban kalian.
Plausibilitas
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
_______________________________________
Suspense
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
Surprise
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________________
_____________________________________________
Unity
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
____________________________________________________
_______________________________________




buku pegangan siswa bahasa Indonesia ekspresi diri dan akademik kelas XI