PENGUMUMAN (BERKENAAN DENGAN TUGAS AKHIR TENGAH SEMESTER GENAP) BAHASA INDONESIA

SETIAP SISWA YANG AKAN MENGERJAKAN TUGAS AKHIR TENGAH SEMESTER GENAP HARUS MENJADI ANGGOTA BLOG BINDOX. 
BILA BELUM MENJADI ANGGOTA BINDOX, KOMENTAR TIDAK DAPAT MASUK BLOG INI. 
TERIMAKASIH. 

TUGAS AKHIR TENGAH SEMESTER GENAP (TAHUN PELAJARAN 2011/2012)

1. PERSYARATAN MENGERJAKAN TUGAS:
SELURUH SISWA (SECARA INDIVIDU) HARUS MENGISI PRESENSI (DAFTAR KEHADIRAN) DENGAN CARA MENJADI ANGGOTA/MEMBER BLOG INI (BAGI SISWA YANG SUDAH MENJADI ANGGOTA BLOG INI TIDAK PERLU MENCANTUMKAN NAMA LAGI)
CARA MENJADI ANGGOTA/MEMBER: SIGN IN DI BAWAH KOLOM ANGGOTA

2. BUATLAH SEBUAH TULISAN/KARANGAN SINGKAT (MINIMAL 20 KALIMAT) DENGAN TEMA BERIKUT INI:
 

    KELAS X TPA:
    TEMA BAGI SISWA BERNOMOR ABSEN GANJIL:
    BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR
    TEMA BAGI SISWA YANG BERNOMOR ABSEN GENAP:
     BAHASA INDONESIA CERMIN KEPRIBADIAN BANGSA

    KELAS X TPB: 
    TEMA BAGI SISWA BERNOMOR ABSEN GANJIL:
    BAHASA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI
    TEMA BAGI SISWA YANG BERNOMOR ABSEN GENAP:
     BAHASA INDONESIA SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER ANAK BANGSA


     KELAS X TPC:
     TEMA BAGI SISWA BERNOMOR ABSEN GANJIL:
     BAHASA INDONESIA CERMIN BUDAYA BANGSA
    TEMA BAGI SISWA YANG BERNOMOR ABSEN GENAP:
     PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA DI ERA GLOBALISASI

    KELAS X TPD:
    TEMA BAGI SISWA BERNOMOR ABSEN GANJIL:
     BANGGA BERBAHASA INDONESIA
    TEMA BAGI SISWA YANG BERNOMOR ABSEN GENAP:
     GUNAKAN BAHASA INDONESIA DENGAN SANTUN


     KELAS X GBA:
    TEMA BAGI SISWA BERNOMOR ABSEN GANJIL:
     CINTA BAHASA INDONESIA
    TEMA BAGI SISWA YANG BERNOMOR ABSEN GENAP:
     BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA PERSATUAN


    KELAS X GBB:
    TEMA BAGI SISWA BERNOMOR ABSEN GANJIL:
     BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA NASIONAL
    TEMA BAGI SISWA YANG BERNOMOR ABSEN GENAP:
    PERERAT PERSATUAN DAN KESATUAN DENGAN BAHASA INDONESIA

    KELAS X GBC:
    TEMA BAGI SISWA BERNOMOR ABSEN GANJIL:
     MEMELIHARA DAN MENGEMBANGKAN BAHASA INDONESIA
    TEMA BAGI SISWA YANG BERNOMOR ABSEN GENAP:
     MENJUNJUNG BAHASA INDONESIA

3. KARANGAN DITULIS PADA KOLOM KOMENTAR. PALING LAMBAT TANGGAL 2 APRIL    2012. KARANGAN DISERTAI NAMA SISWA, NO ABSEN DAN KELAS.

4. BAGI SISWA YANG TERLAMBAT/TIDAK MENGERJAKAN TUGAS TIDAK AKAN MENDAPAT NILAI TUGAS AKHIR TENGAH SEMESTER GENAP.


TERIMAKASIH.

Kata pengantar (contoh)

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Dikutip dr: http://www.sarjanaku.com/2011/05/contoh-kata-pengantar-yang-baik.html

Memo


Memo merupakan pesan ringkas, yakni pesan yang ditulis seseorang dengan singkat, jelas, dan mudah untuk dipahami. Menurut pemakaiannya, memo ada yang bersifat resmi dan bersifat pribadi (tidak resmi). Memo bersifat resmi dipakai sebagai surat pernyataan dalam hubungan resmi dari seorang pimpinan kepada bawahannya. Memo bersifat pribadi dipakai sebagai nota atau surat pernyataan tidak resmi antar temansaudara, atau orang lain yang memiliki hubungan akrab.


Ciri-ciri

  1. Surat khusus yang dibuat khusus untuk keperluan dalam kantor atau organisasi
  2. Dilihat dari peredarannya, sebuah kantor atau organisasi dapat menyampaikan memo secara horizontal maupun secara vertikal
  3. Penyampaian secara horizotal merupakan penyampaian memo kepada pihak yang memiliki jabatan setara
  4. Penyampaian secara vertikal merupakan penyampaian memo dari atasan kepada bawahan atau sebaliknya untuk mengingatkan atau memerintahkan sesuatu
  5. Merupakan bentuk komunikasi yang berisi saran, arahan, atau penerangan mengenai sesuatu hal
  6. Memiliki bagian surat yang lebih sederhana dibandingkan dengan surat resmi pada umumnya, terutama dalam isi surat.
  7. Karena pedarannya yang terbatas, memo biasanya tidak mencantumkan identitas kantor, seperti nama kantor, nomor telepon, faksimili, dan kode pos, secara lengkap.


Ciri-ciri bentuk memo

Bentuk memo terdiri atas dua bagian:
  • Kepala Memo
    • Penerima
    • Pengirim
    • Perihal dan tanggal pengimin
    • Paraf dan nama terang pengirim

Gagasan pokok

Menemukan ide pokok paragraf merupakan sutau kewajiban bagi pembaca ketika mencoba menambah wawasan pengetahuannya melalui bacaan. Keterampilan menemukan ide pokok bisa dilatih dan dikembangkan secara teratur dan berkesinambungan sehingga menangkap inti bacaan atau informasi yang diterimanya menjadi tepat, akurat, dan cermat.

Inti atau ide pokok paragraf merupakan gagasan yang secara struktural maknawi membawahkan gagasan yang lain. Oleh sebab itu, inti atau ide pokok merupakan suatu konsep yang secara ordinatif mencakup konsep gagasan lain (menyubordinasi gagasan lain). Gagasan-gagasan lain yang terwujud dalam kalimat-kalimat penjelas atau pendukung gagasan pokok itu berantai-berkesinambungan guna membentuk kesatuan paragraf.

Menemukan inti atau ide pokok bisa disiasati dengan mengenal tipe paragraf, berdasarkan pola penalaran dan pola pengembangannya. Bila dilihat dari segi pola penalarannya, paragraf bisa berbentuk tipe deduktif dan induktif. Lain halnya bila kita lihat dari pola pengembangannya, tipe paragraf dapat berupa paragraf definisi, paragraf contoh, paragraf sebab-akibat(kausalitas), paragraf perbandingan (persamaan-perbedaan), paragraf pertentangan, paragraf kronologi, dan sebagainya.

Pola penalaran deduktif merupakan cara berpikir yang dimulai dengan rumusan pernyataan umum. Biasanya ditempatkan di awal paragraf, sedangkan kalimat-kalimat berikutnya merupakan kalimat-kalimat penjelas. Pola penalaran induktif merupakan pola berpikir dengan menggunakan peristiwa atau hal-hal khusus untuk menarik kesimpulan umum. Hal-hal atau peristiwa khusus yang dimaksud adalah peristiwa-peristiwa yang sejenis, seklasifikasi, paralel, dan digunakan sebagai data yang memperkuat gagasan untuk menarik kesimpulan. Secara logis, berdasarkan beberapa, banyak, atau semua data, pembaca digiring ke suatu kesimpulan umum atas peristiwa atau hal-hal tersebut. Pola penyimpulan bisa secara induktif, generalisasi, bahkan analogi. 

Bila kita memenukan gagasan pokok berdasarkan pola penalarannya, ide pokok terdapat di kalimat awal atau di akhir paragraf. Perlu diketahui bahwa kalimat awal atau akhir paragraf bisa saja merupakan kalimat majemuk bertingkat, bahkan mungkin kompleks. Namun, inti gagasan terdapat pada induk kalimatnya, yakni unsur S-P (O)/(Pel.), sedangkan berdasarkan pola pengembangannya, ide pokok paragraf biasanya berada di awal paragraf.

Yang sering membuat pembaca bingung menentukan ide pokok adalah bila paragraf yang dibacanya bertipe naratif atau deskriptif. Ide pokok paragraf biasanya terjabarkan secara merata berkesinambungan dalam semua kalimat paragraf tersebut. Oleh sebab itu, pembaca harus pandai menemukan kata-kata kunci (key words) paragraf itu. Berdasarkan kata-kata kunci itulah kita dapat menentukan kalimat ide pokok.

Berbagai bentuk evaluasi, mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi, tipe soal menentukan ide pokok atau inti gagasan pasti kita temukan. Hal itu bisa kita temukan pula dalam ulangan harian, ulangan blok, ulangan umum, ulangan semester, ulangan kenaikan, bahkan ujian nasional serta tes ke perguruan tinggi. Oleh karena iu, kepandaian menemukan ide pokok bisa ditingkatkan dan dilatih dengan cara membiasakan dan meningkatkan terus keamampuan membaca. Berlatih dan terus berlatih demi kemajuan kita semua. 

Sumber bacaan untuk berlatih kita dapat menemukannya dalam berbagai bentuk dan corak, asalkan bersifat edukatif, intelektual, dan rasional. Kemajuan teknologi informasi dapat kita manfaatkan untuk hal ini sejalan dengan pengembangan wawasan kita sendiri. Membaca merupakan hal yang signifikan dalam kehidupan kita manakala kita menjadi individu masyarakat yang semakin meningkat taraf kualitas pribadi dan peradabannya. 



dikutip dr: http://latihanmenemukanidepokok.blogspot.com/

Kutipan langsung


Kutipan langsung adalah kutipan yang dikutip oleh seorang penulis secara literal huruf demi huruf, kata demi kata, atau kalimat demi kalimat dari teks lain dan dimasukkan secara persis sama ke dalam teks yang ditulisnya.
Kutipan langsung juga dapat dikutip dari sumber tertulis dan dari sumber lisan atau sumber tak tertulis. Pengutipan dengan menggunakan sumber tak tertulis lebih lemah daripada kutipan dari sumber tertulis. Untuk memperkuat kutipan lisan, penulis dapat menyalin kutipan langsung dan meminta pengesahan dari si pembicara lisan itu bahwa memang dia yang mengucapkan kata-kata tersebut. Pengesahakan dapat dilakukan menggunakan paraf, tanda tangan, atau bahkan segel atau materai.
Dalam bahasa-bahasa modern, kutipan langsung dituliskan di dalam tanda kutip ganda ("...") dan diakhir dengan teks sumber yang dikutip itu beserta tahunnya bila dimasukkan dalam kalimat atau ditampilkan dalam bentuk blok, bila berdiri sendiri. Dalam bahasa-bahasa kuno, aturan tata bahasa semacam itu tidak ada, karena tanda baca semacam tanda kutip ganda belum dikenal. Dalam naskah Injil kuno, kutipan langsung juga tidak dibedakan dari kutipan tidak langsung, karena dalam bahasa Yunani Kuno tidak dikenal sama sekali tanda baca, bahkan spasi antar kata pun belum dikenal.
Contoh kutipan langsung:
  1. Kenyataannya, Rumelhart menyatakan bahwa skemata adalah "benar-benar blok konstruksi kognisi" (1981: 33).
  2. Saya berani menyatakan kepada anda bahwa skemata adalah "benar-benar blok konstruksi kognisi" (Rumelhart, 1981: 33).
  3. Tapi, apakah sebenarnya skemata itu?
    Skemata adalah benar-benar blok konstruksi kognisi" (Rumelhart, 1981: 33).
Biasanya, kutipan yang dijadikan blok tersendiri adalah kutipan yang panjangnya lebih dari 3 baris. Namun dalam kasus-kasus tertentu semisal dalam situs ini, kebiasaan tersebut tidak diikuti. Bahkan kutipan 1 kalimat pun dibuat menjadi blok kutipan dan bahkan diberi warna untuk mencuri perhatian pembaca secara lebih lagi dan untuk memisahkan antara tegas antara kutipan dan bukan kutipan.



Catatan kaki


Catatan kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab karangan ilmiah. Catatan kaki biasa digunakan untuk memberikan keterangan dan komentar, menjelaskan sumber kutipan atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan/bibliografi.


Sistematika penulisan

  1. Catatan kaki harus dipisahkan oleh sebuah garis yang panjangnya empat belas karakter dari margin kiri dan berjarak empat spasi dari teks.
  2. Catatan kaki diketik berspasi satu.
  3. Diberi nomor.
  4. Nomor catatan kaki diketik dengan jarak enam karakter dari margin kiri.
  5. Jika catatan kakinya lebih dari satu baris maka baris kedua dan selanjutnya dimulai seperti margin teks biasa (tepat pada margin kiri).
  6. Jika catatan kakinya lebih dari satu maka jarak antara satu catatan dengan catatan yang lainnya adalah sama dengan jarak spasi teks.
  7. Jarak baris terakhir catatan kaki tetap 3 cm dari pinggir kertas bagian bawah.
  8. Keterangan yang panjang tidak boleh dilangkaukan ke halaman berikutnya. Lebih baik potong tulisan asli daripada memotong catatan kaki.
  9. Jika keterangan yang sama menjadi berurutan (misalnya keterangan nomor 2 sama dengan nomor 3, cukup tuliskan kata ibid daripada mengulang-ulang keterangan catatan kaki.
  10. Jika ada keterangan yang sama tapi tidak berurutan, berikan keterangan op.cit., lih [x] [x] merupakan nomor keterangan sebelumnya.
  11. Jika keterangan seperti opcit tetapi isinya keterangan tentang artikel, gunakan loc.cit.
  12. Untuk keterangan mengenai referensi artikel atau buku tertentu, penulisannya mirip daftar pustaka, tetapi nama pengarang tidak dibalik.

RAMBU-RAMBU MENGERJAKAN TUGAS AKHIR TENGAH SEMESTER GENAP

CATATAN YANG HARUS DIPERHATIKAN:


1. TUGAS BERUPA TULISAN (KARANGAN) SINGKAT. TULISAN (KARANGAN) SINGKAT MINIMAL TERDIRI DARI 20 KALIMAT. BILA KURANG DARI ITU NILAI DIANGGAP BELUM MENCAPAI KKM.


2. SEBAGAI SYARAT MENGERJAKAN TUGAS, SISWA HARUS MENGISI PRESENSI(ABSEN) DENGAN CARA SIGN IN PADA KOLOM "ANGGOTA" HAL INI DIMAKSUDKAN SUPAYA: 
1. SISWA SUDAH MASUK DAFTAR ANGGOTA SEHINGGA MEMUDAHKAN PENILAIAN
2. BESOK KALAU ADA TUGAS ATAU TES MERLALUI BLOG, SUDAH TIDAK PERLU ABSEN LAGI.

Polisemi


Polisemi adalah suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu.
Contoh :
  • Saya masih punya hubungan darah dengan keluarga Bu Rani. (darah=kesaudaraan)
  • Tubuhnya berlumuran darah setelah kepalanya terbentur tiang listrik. (darah=yang berada dalam tubuh)
Perhatikan kata darah pada kalimat a berarti keluarga (makna konotasi), sedangkan darah pada kalimat b berarti zat merah dalam tubuh kita (makna denotasi).

Penyuntingan bahasa


Menjadi seorang penyunting (editor) ternyata bukanlah tugas yang biasa saja. Jika ingin menyandang jabatan itu, seseorang harus memikirkan bahwa dia memiliki tanggung jawab untuk melengkapi dirinya dalam dunia yang luas, yaitu dunia literatur. Jadi, seorang penyunting tidak hanya bermodal ejaan yang baik dan benar saja, akan tetapi harus memiliki "beban" sebagai seorang penyunting yang baik dan benar pula.



"Buku Pintar Penyuntingan Naskah" yang ditulis oleh Pamusuk Eneste benar-benar dapat dijadikan salah satu referensi bagi para penyunting, khususnya yang baru saja menggeluti bidang ini. Isinya tidak hanya hal-hal teknis seputar penyuntingan, akan tetapi beberapa bab menjelaskan mengenai tugas-tugas, syarat, dan hal-hal yang harus diperhatikan seorang editor. Bagian-bagian tersebut dapat membangkitkan semangat untuk lebih mengembangkan diri atau untuk menguji apakah saat ini seseorang telah menjadi editor yang baik dan benar.
Berikut ini bebarapa syarat untuk menjadi seorang editor yang dituliskan Pamusuk Eneste dalam "Buku Pintar Penyuntingan Naskah".
  1. Menguasai ejaan.
    Harus paham benar ejaan bahasa Indonesia yang baku saat ini. Penggunaan huruf kecil dan huruf kapital, pemenggalan kata, dan penggunaan tanda-tanda baca (titik, koma, dan lain-lain) harus dipahami benar. Bagaimana bisa memperbaiki naskah orang lain jika tidak memahami seluk beluk ejaan bahasa Indonesia.
  2. Menguasai tatabahasa.
    Seorang editor harus menguasai bahasa Indonesia dalam arti luas, tahu kalimat yang baik dan benar, kalimat yang salah dan tidak benar, kata-kata yang baku, bentuk-bentuk yang salah kaprah, pilihan kata yang pas, dan sebagainya.
  3. Bersahabat dengan kamus.
    Seseorang yang malas membuka kamus sebetulnya tidak cocok menjadi penyunting naskah karena ahli bahasa sekalipun tidak mungkin menguasai semua kata ag ada dalam satu bahasa tertentu, apalagi kalau berbicara mengenai bahasa asing.
  4. Memiliki kepekaan bahasa.
    Peyunting naskah harus tahu mana kalimat yang kasar dan kalimat yang halus; harus tahu mana kata yang perlu dihindari dan maa kata yang sebaiknya dipakai, harus tahu kapan kalimat atau kata tertentu digunakan atau dihindari. Untuk itu seorang penyunting naskah peru mengikuti tulisan-tulisan pakar bahasa atau kolom bahasa yang ada di sejumlah media cetak.
  5. Memiliki pengetahuan luas.
    Harus banyak membaca buku, majalah, koran, dan menyerap informasi dari media audiovisual agar tidak ketinggalan informasi.
  6. Memiliki ketelitian dan kesabaran.
    Dalam keadaan apapun, ketika menjalankan tugasnya seorang editor harus tetap teliti menyunting setiap kalimat, setiap kata, dan setiap istilah yang digunakan penulis naskah. Ia juga harus sabar menghadapi setiap naskah, karena proses penyuntingan itu memakan proses yang berulang-ulang.
  7. Memiliki kepekaan terhadap SARA dan Pornografi.
    Penyunting naskah harus tahu kalimat yang layak cetak, kalimat yang perlu diubah konstruksinya, dan kata yang perlu diganti dengan kata lain. Dalam hal ini seorang penyunting harus peka terhadap hal-hal yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
  8. Memiliki keluwesan.
    Sikap luwes dan supel harus dimiliki seorang penyunting naskah karena akan sering berhubungan dengan orang lain. Penyunting harus bersedia mendengarkan berbagai pertanyaan, saran, dan keluhan. Dengan kata lain, seorang yang kaku tidaklah cocok menjadi penyunting naskah.
  9. Memiliki kemampuan menulis.
    Hal ini perlu dimiliki seorang penyunting naskah karena kalau tidak tahu menulis kalimat yang benar tentu kita pun akan sulit membetulkan atau memperbaiki kalimat orang lain.
  10. Menguasai bidang tertentu.
    Ada baiknya jika seorang penyunting naskah menguasai salah satu bidang keilmuan tertentu karena akan sangat membantu dalam tugasnya sehari-hari.
  11. Menguasai bahasa asing.
    Dalam tugasnya, seorang penyunting naskah akan berhadapan dengan istilah-istilah yang berasal dari bahasa Inggris. Minimal, seorang penyunting naskah dapat menguasai bahasa Inggris secara pasif. Artinya dapat membaca dan memahami teks bahasa Inggris.
  12. Memahami kode etik penyuntingan naskah.
    Berikut beberapa kode etik penyuntingan naskah yang ada dalam buku ini.
    1. Editor wajib mencari informasi mengenai penulis naskah.
    2. Editor bukanlah penulis naskah.
    3. Wajib menghormati gaya penulis naskah.
    4. Wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya.
    5. Wajib mengonsultasikan hal-hal yang mungkin akan diubahnya dalam naskah.
    6. Tidak boleh menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau telah ditulisnya.
Buku pintar ini juga memberikan tuntunan kepada para penyunting tentang pentingnya setiap proses penyuntingan. Seperti, proses Pra penyuntingan naskah yang meliputi pengecekan kelengkapan naskah, ragam naskah, daftar isi, bagian-bagian bab, ilustrasi/tabel/gambar, catatan kaki, informasi mengenai penulis, dan membaca naskah secara keseluruhan.
Dalam proses penyuntingan itu sendiri, yang perlu diperhatikan dengan cermat dan seksama oleh penyunting adalah masalah ejaan, tatabahasa, kebenaran fakta, legalitas, konsistensi, gaya penulis, konvensi penyuntingan naskah, dan gaya penerbit/gaya selingkung.
Tidak kalah pentingnya juga proses pasca penyuntingan naskah. Dalam proses ini setiap editor harus memeriksan kembali kelengkapan naskah, nama penulis, kesesuai daftar isi dan isi naskah, tabel/ilustrasi/gambar, prakata/kata pengantar, sistematikan tiap bab, catatan kaki, daftar pustaka, daftar kata/istilah, lampiran, indkes, biografi singkat, sinopsis, nomor halaman, sampai siap diserahkan kepada penulis atau penerbit.
Ternyata tidak begitu sederhana juga tugas seorang penyunting naskah itu, bukan? Semua membutuhkan kemauan dan kerja keras untuk dapat menjdi penyunting yang baik dan benar. Semua kerja keras itu bahkan tidak boleh berhenti pada satu puncak, harus terus ditingkatkan hari demi hari.