DAFTAR SISWA REMIDI US GENAP BAHASA INDONESIA KELAS X-TPA 2012/2013

11.       DWI H
22.       HERI A
33.       IRFAN A
44.       LUKMAN H
55.       PRADITYA AP
66.       RAHMAT Y
77.       RIZAL MA




Remidi dengan mengerjakan soal: 
Buatlah paragraf berupa cerita (minimal berisi 7 kalimat) yang mengandung: 2 buah kalimat tanya tersamar, 2 buah kalimat tanya retorik.


Jawaban remidi dikerjakan pada kolom komentar. Paling lambat tanggal 15 Juni 2013.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam bermain peran


a. mempersiapkan diri secara matang dan serius sebelum tampil,
b. pilihlah teks drama yang sesuai dengan keinginan kelompok,
c. diskusikan teks naskah drama yang akan dipentaskan, mengenai tema, tokohtokoh
dan watak-wataknya agar bisa menghayati peran,
d. casting (penentuan pemeran) dengan jeli dan tepat,
e. berlatih secara menyeluruh, meliputi membaca, membaca dengan penjiwaan,
melatih gerakan-gerakan, dan penguasaan pentas.
f. siapkan unsur pendukung, di antaranya musik, lampu, dekorasi

DAFTAR SISWA REMIDI US GENAP BAHASA INDONESIA 2012/2013

DAFTAR SISWA REMIDI US GENAP BAHASA INDONESIA 2012/2013 AKAN DIUMUMKAN BESOK, 13 JUNI 2013. REMIDI AKAN DILAKSANAKAN 13 JUNI 2013 SAMPAI DENGAN 15 JUNI 2013.
TERIMAKASIH.

Kata berawalan me-

Kalimat berikut ini menggunakan kata berawalan me-:
1. Kakak menulis cerpen.
2. Bapak Yohan mencangkul tanah.
3. Sapi itu menguak.
4. Radio anak mulai mengudara pukul 05.00 WIB.
5. Pelajar tidak boleh merokok.
Kata-kata berawalan me- pada contoh-contoh itu berjenis kata kerja aktif. Fungsi utama
awalan me- adalah membentuk kata kerja.
Adapun arti awalan me- adalah sebagai berikut.
1. Melakukan pekerjaan
Contoh: Ia membaca naskah drama dengan lancar. (melakukan pekerjaan membaca)
2. Mengeluarkan
Contoh: Anjing itu menggonggong dengan kerasnya. (mengeluarkan gonggongan)
3. Menjadi
Contoh: Sobekan di celananya melebar karena tersangkut paku. (menjadi lebar)
4. Menyerupai
Contoh: Karena tidak memerhatikan lingkungan, sampah di kota ini menggunung.
(menyerupai gunung)
5. Menuju ke
Contoh: Garuda Indonesia mendarat di Bandara adi Soemarmo. (menuju ke darat)


Sumber: BSE

KUNCI JAWABAN SOAL UJIAN SEMESTER GENAP BAHASA INDONESIA KELAS X SMK (PILIHAN GANDA)

KUNCI JAWABAN


A.  Pilihan Ganda


11.      B
22.      B
33.      E
44.      A
55.      A
66.      D
77.      D
88.      A
99.      E
110.  D
111.  C
112.  C
113.  E
114.  C
115.  D
116.  D
117.  C
118.  B
119.  E
220.  C
221.  E
222.  C
223.  C
224.  E
225.  B
226.  D
227.  A
228.  B
229.  C
330.  E
331.  A
332.  D
333.  E
334.  C
335.  A
336.  A
337.  B
338.  D
339.  C
440.  B












Mengaji dan Mengkaji

SEBUT saja satu kata, kaji. Kata ini unik juga. Betapa tidak? Kata dasar yang satu ini menghasilkan bentuk turunan yang berbeda, yakni mengaji danmengkaji ataupun pengajian dan pengkajian. Saya yakin bentuk turunan yang berbeda ini berasal dari kata dasar yang sama, yakni kaji. Alasannya, tidak ada kata dasar aji untuk bentuk turunan mengaji dan pengajian. Ataukah kaji merupakan kata dasar (dalam fungsi sebagai salah satu unsur pembentuk kata kerja) yang juga merupakan homonim (kata yang sama lafal dan ejaannya tetapi berbeda makna karena berasal dari sumber yang berlainan)? Saya sendiri berpendapat, dalam konteks seperti ini, kaji bukanlah homonim, apalagi homofon (kata yang sama lafalnya dengan kata lain tetapi berbeda ejaan dan maknanya) ataupun homograf (kata yang sama ejaannya dengan kata lain tetapi berbeda lafal dan maknanya).
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Departemen Pendidikan Nasional, baik edisi II maupun edisi III, tidak secara tegas menyebutkan bahwa bentuk turunan mengaji dan mengkaji ataupun pengajian dan pengkajian berasal dari kata dasar yang sama, kaji. Namun demikian, penjelasan tentang kata-kata tersebut berada di bawah kata dasar kaji.
Kaji merupakan kata benda atau nomina yang berarti pelajaran (agama dan sebagainya) atau penyelidikan (tentang sesuatu). 
Hal yang menarik untuk dikaji adalah perbedaan bentuk turunan mengaji dan mengkaji ataupun pengajian dan pengkajian. Mengapa mengkaji dan pengkajian? Bukankah huruf k, p, t, s pada awal kata dasar luluh bila didahului awalan seperti terjadi pada kata mengubur (dari kata dasar kubur) dan kata bentukan lainnya, penguburan? Seperti juga mengibarkan (dari kata dasarkibar) dan pengibaran. Nah di sinilah menariknya. Para ahli bahasa rupanya lebih mengutamakan faktor kemudahan menangkap arti ketimbang hanya mengedepankan segi morfologis atau etimologis. Dengan demikian, diberlakukan perkecualian atas hukum k, p, t, s itu untuk mencapai makna yang lebih tinggi, yakni kemudahan membedakan arti. Dalam setiap bahasa, yang namanya perkecualian (exception) memang selalu ada. Boleh jadi, mengkaji dan pengkajian adalah bentuk salah (secara morfologis) yang dianggap benar (dalam konteks yang lebih tinggi yakni pembedaan arti).
Ada cita rasa bahasa yang berbeda antara mengaji Alquran dan mengkaji Alquran. Sebenarnya, kedua frasa ini bisa digunakan, namun arti mengaji Alquran tentu berbeda dengan mengkaji Alquran. 
KBBI memberi penjelasan khusus tentang kata mengaji dan mengkaji. Mengaji adalah kata kerja atau verba yang berarti mendaras (membaca) Alquran, sedangkan arti lainnya adalah belajar membaca tulisan Arab, atau belajar, mempelajari. Sementara mengkaji berarti belajar, mempelajari (yang juga merupakan arti ketiga dari mengaji), atau arti lainnya memeriksa, menyelidiki, memikirkan (mempertimbangkan), menguji, menelaah. 
Jadi memang terasa ada nuansa yang berbeda antara mengaji dan mengkaji (walaupun Malaysia menggunakan kata yang sama untuk kedua arti itu, yakni mengaji). KBBI pun memberi arti yang berbeda untuk pengajian dan pengkajian. Pengajian adalah nomina yang berarti pengajaran (agama Islam) atau pembacaan Alquran. Sementara pengkajian berarti proses, cara, perbuatan mengkaji, atau penyelidikan (pelajaran yang mendalam), atau penelaahan. 
Tentu saja ada sisi positif dari perbedaan atau pembedaan arti ini. Bila kedua arti tersebut hanya diwakili oleh kata pengajian, apakah BPPT juga merupakan singkatan dari Badan Pengajian dan Penerapan Teknologi?***
IMAM JAHRUDIN PRIYANTO
Redaktur Bahasa Pikiran Rakyat.
Sumber: Pikiran Rakyat ( 2-8-2008 )

Penglihatan dan Penglepasan atau Pelihatan dan Pelepasan


Setakat ini kata penglihatan dan penglepasan selalu menjadi perbincangan yang menarik. Manakah yang benar,penglihatan atau pelihatan dan penglepasan atau pelepasan? Kebanyakan pemakai bahasa lebih cenderung menggunakan kata penglihatan dan penglepasan daripada menggunakan kata pelihatan dan pelepasan. Apakah hal itu berarti bahwa kata penglihatan dan penglepasan merupakan kata yang baku? Untuk menentukan kebenaran kata tersebut, perlu dilakukan telaah tentang bagaimana pembentukan kata itu berdasarkan kaidah yang berlaku dalam tatabahasa bahasa Indonesia.  
 Kata penglihatan dan penglepasan berasal dari kata dasar lihat dan lepas yang mendapat imbuhan peng-...-an. Berdasarkan kaidah pembentukan kata yang berlaku dalam bahasa Indonesia, kata dasar yang diawali huruf ljika mendapat awalan peng- akan menjadi pe- seperti peng- + latih menjadi pelatih dan peng- + lipat menjadipelipat yang jika diturunkan lagi dengan mendapatkan akiran -an akan menjadi pelatihan dan pelipatan. Dalam bahasa Indonesia tidak dijumpai kata penglatihan dan penglipatan. Jadi, urutan pembentukan kata tersebut adalah sebagai berikut.
latih     →      pelatih        pelatihan
lipat           pelipat    →    pelipatan
Berdasarkan hal itu, kata lihat dan lepas jika mendapat imbuhan peng-...-an yang benar menjadi pelihatan danpelepasan bukan penglihatan dan penglepasan dengan urutan pembentukan sebagai berikut.
lihat          pelihat     →     pelihatan
lepas        pelepas    →     pelepasan
Pemunculan bentuk penglihatan dan penglepasan disebabkan oleh penghindaran bentuk yang dirasakan memunyai nilai rasa kurang sopan. Kata pelihatan dirasakan memunyai tautan pikiran kurang sopan karena unsur kata tersebut mengandung nama organ tubuh laki-laki, yang bagi orang Jawa kata tersebut tidak pantas untuk diucapkan. Namun, pada sisi lain, orang tidak pernah memasalahkan bentuk pelipur lara dan  peliput berita. Kemudian, kata pelepasan dinilai memiliki tautan pikiran yang kurang sopan karena salah satu makna kata tersebut adalah ‘dubur'. Kata tersebut sebenarnya memiliki tiga makna, yaitu (1) ‘perbuatan melepaskan', (2) ‘pembebasan dari tugas pekerjaan', dan (3) ‘dubur'.

Alasan pemunculan kata penglihatan dan penglepasan tersebut sebenarnya tidak dapat dipertanggungjawabkan karena makna sebuah kata dapat diketahui pada konteks kalimatnya. Misalnya pada kalimat Upacara pelepasan sarjana pendidikan dihadiri oleh pejabat setempat. Kata pelepasan pada kalimat tersebut bermakna ‘perbuatan melepaskan' bukan ‘dubur'. Oleh karena itu, pemakai bahasa Indonesia tidak perlu ragu untuk mengembalikan penglepasan pada bentuk yang benar, yaitu pelepasan. Demikian pula, mengembalikan kata penglihatan pada bentuk pelihatan. 




PENGUMUMAN BERKENAAN DENGAN PELAKSANAAN UJIAN SEMESTER GENAP 2012/2013

SISWA YANG BELUM MEMENUHI SELURUH PERSYARATAN UJIAN SEMESTER GENAP UNTUK MAPEL BAHASA INDONESIA MOHON SEGERA MEMENUHI PERSYARATAN SEBELUM TANGGAL 3 JUNI 2013. TERIMAKASIH.

Unsur-unsur drama

Tema
Penokohan
Alur
Amanat
Perlengkapan
Prolog
Dialog
Epilog

Pelaku dalam pentas drama

Penulis naskah
Sutradara
Pemain (tokoh)
Narator
Penata rias
Penata kostum
Penata artistik